Tampilkan postingan dengan label Sastra Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Juni 2014

Sejarah Islam (Edisi 4 Juni 2014)


Rasulullah Saw di Mata Adi bin Hatim

Keagungan akhlak, kesederhanaan sikap dan kabar dari langit yang diungkapkan Rasulullah Saw inilah yang meluluhkan hati seorang pemimpin suku Thai, Adi bin Hatim, untuk memeluk agama Islam.

Nama lengkapnya adalah Adi bin Hatim bin Abdullah bin Saad bin Hasyraj At-Thai, dijuluki dengan Abu Wahab dan Abu Tarif. Sahabat yang masuk Islam pada tahun 9 H ini terkenal sebagai orator yang sangat pandai. Beliau adalah kepala suku Thai baik pada masa jahiliah maupun masa Islam. Dia mempunyai jasa besar dalam menumpas kaum murtad dan ikut serta dalam penaklukan Irak. Beliau berdomisili di Kota Kufah dan wafat di sana.

Adi mewarisi kepemimpinan ayahnya sebagai penguasa suku at-Tha’i. Kaum Tha’i mengeluarkan seperempat harta mereka sebagai pajak kepada ‘Adi, untuk imbalan bagi kepemimpinannya. Dengan harta yang dimiliki, putra Hatim ini sangat dermawanan. Karena itu ia menjadi orang yang sangat disegani di kalangan kaumnya. 

Ketika Rasulullah mendakwahkan Islam, berangsur bangsa Arab mulai mendekat kepada beliau, suku demi suku. Tetapi, Adi justru melihat pengaruh Rasulullah merupakan ancaman yang akan melenyapkan kepemimpinannya. Karena itu, dia memusuhi Rasulullah meski dia sendiri belum mengenal pribadi Nabi yang mulia itu. Adi kemudian meninggalkan kampungnya dan pergi menuju Syam.

Adi menuturkan kisahnya sendiri. ”Aku kemudian lebih membenci keberadaanku disana ketimbang kebencianku kepada Rasulullah Saw. Aku lalu putuskan lebih baik aku pergi menemuinya. Kalau ia seorang raja atau pendusta, niscaya aku dapat mengetahuinya dan jika ia seorang yang benar (Nabi), aku harus mengikutinya. Kemudian aku berangkat hingga aku berada di hadapan Rasulullah Saw di Madinah. Aku menemui beliau ketika beliau berada di masjidnya lalu aku ucapkan salam kepadanya. Beliau bertanya: “Siapa anda?” Aku jawab: “Adi bin Hatim!”

Rasulullah Saw kemudian berdiri dan membawaku kerumahnya. Demi Allah ketika beliau membawaku kerumah tiba-tiba ada seorang perempuan tua dan lemah yang mencegatnya kemudian beliau pun berhenti lama sekali kepada wanita yang mengajukan keperluannya kepada beliau itu. Menyaksikan hal ini aku berkata di dalam hati, “Demi Allah, ini bukan gaya seorang raja.”

Setelah itu, Rasulullah Saw berjalan lagi membawaku. Ketika membawaku masuk ke dalam rumahnya, beliau mengambil sebuah bantal dari kulit yang sangat sederhana kemudian melemparkannya kepadaku seraya berkata: Duduklah di atasnya! Aku jawab: Anda sajalah! Kemudian aku pun duduk diatas bantal itu sedangkan beliau sendiri duduk diatas tanah.

Di dalam hati aku berkata, “Demi Allah, ini bukan perilaku seorang raja.” Kemudian beliau berkata, “Wahai Adi bin Hatim apakah engkau mengetahui Illah selain Allah?.” Aku jawab: “Tidak.”

Beliau bertanya lagi, “Bukankah engkau seorang yang beragama?”, Aku jawab, “Ya benar demikian.”

Beliau bertanya lagi, “Bukankah engkau memungut seperempat dari barang rampasan yang diperoleh kaummu?” Aku jawab, “Ya benar demikian.”

Beliau kemudian berkomentar, “Sesungguhnya hal itu tidak dihalalkan oleh Agamamu.” Aku jawab, “Demi Allah, memang dilarang.”

Selanjutnya beliau berkata, ”Wahai Adi bin Hatim, barangkali engkau enggan memeluk agama ini (Islam) karena melihat kemiskinan di kalangan pemeluknya. Demi Allah sebentar lagi harta kekayaan akan berlimpah ruah kepada mereka (kaum Muslim) sehingga tidak ada lagi orang yang mau mengambilnya. Barangkali engkau masih enggan memeluk agama ini (Islam) karena banyaknya musuh mereka dan sedikitnya jumlah mereka. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar seorang wanita yang pergi dari Qadisiah menunggang ontanya ke rumah ini tanpa rasa takut. Barangkali engkau masih enggan memeluk agama ini karena kerajaan dan kekuasaan masih berada di tangan orang-orang selain mereka. Demi Allah, sebentar lagi engkau akan mendengar tentang istana-istana putih dari Babilonia jatuh ke tangan mereka (kaum Muslimin).”

Adi berkata, “Kemudian aku pun masuk Islam.”

Lalu bagaimana dengan kabar langit yang disampaikan Rasulullah kepada Adi?. Adi berkata, “Kemudian aku telah menyaksikan dua hal yang disebutkan Rasulullah Saw di atas: Wanita (yang pergi dari Qadisiah ke Madinah sendirian tanpa takut, sebagaimana yang dikatakan Nabi Saw) dan aku sendiri ikut dalam pasukan pertama penyerbuan harta kekayaan Kisra. Aku bersumpah kepada Allah, hal ketiga yang dijanjikan Nabi Saw pasti akan terbukti. Wallahu a’lam bissawab.



Sastra Islam Kisah Teladan (Edisi 4 Juni 2014)



Wanita Tua yang Sangat Membenci Rasulullah Saw Itu Akhirnya Bersyahadat

Rasulullah Saw adalah teladan bagi seluruh umat manusia yang telah Allah berikan kelebihan diantara manusia yang ada untuk memimpin dunia ini agar manusia selamat dari murka Allah Swt sebagaimana firman-Nya, ’’Katakanlah hai manusia sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasulnya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat kalimatnya {Kitab kitabNya} dan ikutilah dia supaya kamu dapat petunjuk”. (Qs. 7 ayat 8)

Dan tidaklah kami mengutus seorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka niscaya mereka mendapati Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang. (Qs. 4 ayat 64).

Namun demikian masih saja ada di antara orang-orang yang begitu mendalam kebenciannya kepada Rasul bahkan bukan hanya sekedar mereka benci tapi juga mereka musuhi dan ancam keselamatan jiwa Rasul namun semua itu dihadapi oleh Rasul dengan penuh kesabaran tanpa rasa dendam, dan itulah yang membuat mereka yang benci berbalik arah dan menyatakan keislamannya, hal ini pun dialami seorang wanita tua karena ketidak tahuannya kepada Rasul dan hanya mendengar dari orang-orang yang membisikkan kebencian, akhirnya ia pun ikut membenci Rasulullah Saw.    

Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanita malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itu pun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan.

“Senang sekali kamu mau membantu dan menemani, saya sangat menghargainya”, kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya. Suatu saat dia berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad! Gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muhammad!”.

Dia lalu melanjutkan lagi, “Orang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemana pun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan  suku yang terpercaya, tapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa Tuhan itu satu.”

“Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin, dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan dapat menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya,” wanita itu melanjutkan dengan kesal. “Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad!”

Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Laki-laki itu menurunkan barang bawaannya. Wanita tua itu menatapnya sambil tersenyum penuh terima kasih. “Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya memberi kamu satu nasihat. Jauhi Muhammad! Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya. Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.”

Pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannya, “Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu, anak muda?” Lalu laki-laki itu memberitahukannya dan wanita itu terkejut setengah mati.

“Maaf, apa yang kamu bilang? Kata-katamu tidak terdengar jelas. Telinga saya semakin tua, terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik. Kelihatannya lucu, saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad.”

“Saya Muhammad,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi pada wanita tua itu. Wanita itu terpaku memandangi Rasulullah Saw. Tak berapa lama meluncur kata-kata dari mulutnya, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.“

Demikianlah Rasulullah Saw. Hanya dengan dua kata dari mulutnya yang mulia, serta dibekali dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kewibawaan yang luar biasa, beliau sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang sebelumnya sangat membencinya menjadi mencintainya hanya dalam waktu singkat.

Itulah gambaran agung sikap yang ditunjukkan oleh Muhammad Saw yang dengan akhlak beliau dapat mengantarkan seseorang mendapatkan hidayah. Dia disukai kawan atau lawan. Kelembutannya dapat melunakkan kebencian menjadi kecintaan teladan yang sangat luar biasa! Betapa agungnya pribadi beliau.



Kamis, 29 Mei 2014

Sastra Islam Novel Islam Negeri 5 Menara (Edisi 29 Mei 2014)


Pesan dari  Masa Silam
Washington DC, Desember 2003, jam 16.00

Iseng  saja  aku mendekat  ke  jendela  kaca  dan  menyentuh permukaannya  dengan  ujung telunjuk  kananku.  Hawa  dingin segera menjalari wajah dan  lengan kananku. Dari balik kerai tipis  di  lantai  empat  ini,  salju  tampak  turun  menggumpal-gumpal  sepert i  kapas  yang  dituang  dari  langit.  Ketukan-ketukan halus  terdengar set iap gumpal salju menyentuh  kaca di  depanku.  Matahari  sore  menggantung  condong  ke  barat berbentuk piring put ih susu.

Tidak  jauh, tampak The Capitol, gedung parlemen Amerika Serikat  yang  anggun  putih  gading,  bergaya  klasik  dengan tonggak-tonggak  besar.  Kubah  raksasanya  yang  berundak-undak  semakin  memut ih  ditaburi  salju,  bagai  mengenakan kopiah haji.  Di depan gedung  ini, hamparan pohon american elm  yang  biasanya  rimbun  kini  t inggal  dahan-dahan  tanpa daun yang dibalut  serbuk es. Sudah 3  jam salju  turun. Tanah bagai dilingkupi permadani put ih.  Jalan  raya yang  lebar-lebar mulai  dipadati mobil  karyawan  yang beringsut-ingsut  pulang. Berbaris  sepert i  semut.  Lampu  rem  yang  hidup-mat i-hidup-mati memantul merah di salju. Sirine  polisi—atau ambulans—sekali-sekali menggertak diselingi bunyi klakson.

Udara  hangat  yang  berbau  agak  hangus  dan  kering menderu-deru  keluar  dari  alat  pemanas  di  ujung  ruangan. Mesin  ini menggeram-geram karena bekerja maksimal. Walau
begitu,  badan  setelan  melayuku  tetap  menggigil  melawan suhu  yang  anjlok  sejak  beberapa  jam  lalu.  Televisi  di  ujung ruang  kantor menayangkan Weather  Channel  yang mencatat suhu di luar minus 2 derajat  celcius. Lebih dingin dari secawan es tebak di Pasar Ateh, Bukittinggi.

Aku  suka  dan  benci  dengan  musim  dingin.  Benci  karena harus membebat diri dengan baju tebal yang berat . Yang lebih menyebalkan,  kulit  t ropisku berubah  kering dan gatal di sana-sini.  Tapi  aku  selalu  terpesona  melihat   bangunan,  pohon, taman  dan  kota  diselimut i  salju  put ih  berkilat-kilat.  Rasanya tenteram,  ajaib  dan  aneh.  Mungkin  karena  sangat   berbeda dengan  alam kampungku di Danau Maninjau yang  serba biru
dan  hijau.  Setelah  dipikir-pikir,  aku  siap  gatal  daripada melewatkan pesona winter t ime seperti hari ini.

Kantorku berada di Independence Avenue, jalan yang selalu riuh  dengan  pejalan  kaki  dan  lalu  lintas  mobil.  Diapit   dua tempat  tujuan wisata terkenal di  ibukota Amerika Serikat, The Capitol  and  The  Mall,  tempat   berpusatnya  aneka  museum Smithsonian  yang  t idak  bakal  habis  dijalani  sebulan.  Posisi kantorku  hanya  sepelemparan  batu  dari  di  The  Capitol, beberapa  belas menit  naik mobil  ke  kantor  George  Bush  di Gedung  Put ih, kantor  Colin  Powell  di  Department   of  State, markas FBI, dan Pentagon. Lokasi impian banyak wartawan.

Walau  dingin  mencucuk  tulang,  hari  ini  aku  lebih bersemangat   dari  biasa.  Ini  hari  terakhirku  masuk  kantor sebelum terbang  ke Eropa, untuk tugas dan  sekaligus urusan
pribadi.  Tugas  liputan  ke  London  untuk wawancara  dengan Tony  Blair,  perdana  menteri  Inggris,  dan  misi  pribadiku menghadiri  undangan  The  World  Inter-Faith  Forum.  Bukan
sebagai  peliput ,  tapi  sebagai  salah  satu  panelis.  Sebagai wartawan  asal  Indonesia  yang  berkantor  di  AS,  kenyang meliput  isu muslim Amerika, termasuk serangan 11 September
2001.

Kamera, digital recorder, dan t iket aku benamkan ke ransel National Geographic hijau pupus. Semua lengkap. Aku jangkau gantungan baju di dinding cubicie-ku.  Jaket hitam selutut  aku kenakan dan syal cashmer cokelat tua, aku bebatkan di leher.Oke,  semua  beres.  Tanganku  segera  bergerak melipat   layar  Apple PowerBook-ku yang berwarna perak.

Ping… bunyi halus dari messenger menghent ikan tanganku. Layar berbahan  t itanium kembali aku kuakkan.  Sebuah pesan pendek muncul  berkedip-kedip  di  ujung  kanan monitor.  Dari seorang  bernama  “Batutah”.  Tapi  aku  t idak  kenal  seorang
“Batutah” pun.
“maaf,  ini alif dari pm?”  Jariku cepat  menekan tuts.  “betul,
ini siapa, ya?”
Diam sejenak. Sebuah pesan baru muncul lagi. “alif anggota
pasukan  Sahibul  Menara?”  Jantungku  mulai  berdegup  lebih
cepat. Jariku menari ligat di keyboard.
“benar,  ini siapa  sih!!” balasku mulai  t idak  sabar.  “menara
keempat, ingat  gak?”
Sekali  lagi  aku  eja  lambat-lambat…  me-na-ra  ke-em-pat….Tidak  salah  baca.  Jantungku  seperti  ditabuh  cepat . Perutku terasa dingin. Sudah lama sekali. Aku bergegas menghentak-hentakkan jari:
“masya Allah, ini ente, atang bandung? sutradara Batutah?”
“alhamdulillah,  akhirnya  ketemu  juga  saudara
seperjuanganku….
“atang, di mana ente sekarang?” 
“kairo.”
Belum  sempat  aku  mengetik  lagi,  bunyi  ping  terdengar berkali-kali. Pesan demi pesan masuk bertubi-tubi.
“ana lihat  nama ente jadi panelis di london minggu depan.”
“ana juga datang mewakili al azhar untuk ngomongin peran muslim melayu di negara arah”
“kita bisa reuni euy. raja kan juga di london.”
“kita suruh dia  jadi guide ke  trafalgar  square  seperti yang
ada di buku reading di kelas t iga dulu.”
Aku  tersenyum.  Pikiranku  langsung  terbang  jauh  ke masa lalu. Masa yang sangat kuat  terpatri dalam hatiku.

Bersambung

(Sumber : Novel Islam Negeri 5 Menara Karya A. Fuadi)

Sastra Islam Novel Islam Ayat-Ayat Cinta (Edisi 29 Mei 2014)


Gadis Mesir Itu Bernam Maria
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala di langit. Seumpama api yang menjulur dan menjilat-jilati bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendala dan tirai tertutup rapat.

Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang di titahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantaro mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.

Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.

Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalahkan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Ustman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qira’ah sab’ah dan ushul tafsir. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khusari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.

Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak  enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al-Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan oang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain sebagainya. Maka Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh lima puluh kilo meter lebih jauhnya.

Kuambil mushaf tercinta

Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. Aku mengambil sau botol kecil berisi air putih di kulkas. Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri membawa air putih jika beergian, selain sangat berguna juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro, tidak akan ada yang menjual minuman.

Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. Bismillah tawakkalu ala Allah, pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...

Wuss!

Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu.

“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirihat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.

“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun  selalu datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo,” tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam.

“Allah yubarik fik, Mas” Ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.

“Wa iyyakum!” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.


“Sudah bawa air putih, Mas?”
Aku mengangguk.

“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul  setengah dua. Tadi malam dia lembur bikin makalah. Kelihatannya dia  baru tidur jam setengah sepuluh tadi. Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng. Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur kofta9. Kebetulan wortel dan koftanya habis. Bilang sama Rudi sekalian.”

Sebagai yang dipercaya  untuk jadi kepala keluarga—meskipun tanpa seorang ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota. Dalam flat ini  kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Yang lain masih program S.1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar  Lc.  atau  Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar. 

Dan hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta untuk memberikan pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putera-puteri para pejabat KBRI. Siang ini katanya selesai, dan nanti sore dia pulang. Sedangkan Mishbah sedang berada di Rab’ah El-Adawea, Nasr City.  Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid,  untuk merancang draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor Maulana Husein Shahata, pertengahan September depan.Masing-masing penghuni flat ini punya kesibukan. Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun, juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo.Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan mengganggu keharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara kandung.  Saling mencintai, mengasihi dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada yang diistimewakan. Semboyan kami,  baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Tempat yang kami tinggali ini harus  benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan. Dan sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk membawa mereka pada suasana yang mereka inginkan.

Aku melangkah ke pintu.

“Saif. Jangan lupa pesanku tadi!”  kembali aku mengingatkan sebelum membuka pintu.
“Insya Allah, Mas.”
Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik.

 Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar  dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota  seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan  dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak
ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu  El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum  ashir 10 mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangkayang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah segarnya.

Kubuka pintu apartemen perlahan.

Wuss! 
Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku. Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa  perih menyilaukan mata.

Kulangkahkan kaki ke jalan.
“Psst..psst...Fahri! Fahri!”

Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara memanggil-manggil namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan mataku mencari asal suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang gadis Mesir berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening

menatapku penuh binar.
“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
“Shubra.”
“Talaqqi Al-Qur’an ya?”
Aku mengangguk.
“Pulangnya kapan?”
“Jam lima, insya Allah.”
“Bisa nitip?”
“Nitip apa?”
“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”
“Baik, insya Allah.”
Aku membalikkan badan dan melangkah.
“Fahri, istanna suwayya!”
“Fi eh kaman?” 
Aku urung melangkah.
“Uangnya.”
“Sudah, nanti saja, gampang.”
“Syukran Fahri.”
“Afwan.”
Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat zhuhur. Panasnya bukan main.

Gadis Mesir itu, namanya Maria. Ia  juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Bisa dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami paling akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar. 

Maria gadis yang unik.Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an. Di antaranya
surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku.
 Suatu kebetulan. 
“Hei namamu Fahri, iya ‘kan?”
“Benar.”
“Kau pasti tahu namaku, iya ‘kan?”
“Iya. Aku tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis.”
“Kau benar.”
 “Apa bedanya Maria dengan Maryam?”
“Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas namaku tertulis dalam kitab sucimu.  Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?”
“Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Qur’an adalah kitab suci paling banyak dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu tahu itu?” selidikku penuh rasa kaget dan penasaran.

“Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya objektif. Memang kenyataannya demikian. Charles Francis  Potter mengatakan seperti itu. Bahkan jujur kukatakan, ‘Al-Qur’an jauh lebih dimuliakan dan dihargai daripada kitab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dalam bukunya  The Lord Jesus in The Koran memberikan kesaksian seperti itu. Dan pada kenyataannya tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap detik melebihi Al-Qur’an. Di Mesir saja ada sekitar sepuluh ribu  Ma’had Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bahkan jutaan anak. Mereka semua sedang menghafalkan Al-Qur’an. Karena mereka tak akan lulus dari Ma’had Al Azhar kecuali harus hafal Al-Qur’an. Aku saja, yang seorang Koptik suka kok menghafal Al-Qur’an. Bahasanya indah dan enak dilantunkan,” cerocosnya santai tanpa ada keraguan.

“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah dengar?” heranku.
“Ada yang aneh?”
Aku diam tidak menjawab.
“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala.”
“Benarkah?”
“Kau tidak percaya? Coba kau simak baik-baik!”
Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih
dahulu membaca  ta’awudz dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca
Al-Qur’an. Jadilah perjalanan dari Mahattah Anwar Sadat Tahrir sampai Tura
El-Esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam
dari awal sampai akhir. Nyaris tak  ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya
cukup baik meskipun tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen
hingga Hadayek Helwan Maria mengajak  berbincang ke mana-mana. Aku tak
menghiraukan tatapan orang-orang Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.
Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal. Meskipun aku sudah
cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya sendiri saat tak sengaja
bertemu di  metro, atau melalui cerita ayahnya yang ramah. Tapi aku masih
menganggapnya aneh. Bahkan misterius. Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian

akhir Sekolah Lanjutan Atasnya adalah terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia
masuk Fakultas Komunikasi, Universitas  Cairo. Dan tiap tingkat selalu meraih
predikat  mumtaz atau  cumlaude. Ia selalu terbaik di fakultasnya. Ia pernah
ditawari jadi reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir. Tapi  ia tolak. Ia lebih
memilih jadi penulis bebas. Ia memang gadis Koptik yang aneh. Menurut
pengakuannya sendiri, ia paling suka dengar suara azan, tapi pergi ke gereja tidak
pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia memang gadis Koptik yang aneh. Aku tidak
tahu jalan pikirannya.

Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia terkadang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir  yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan ketimbang gadis-gadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka.  Padahal mereka banyak yang mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Qur’an.  Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-Qur’an bahkan melebihi beberapa intelektual muslim.

Ia pernah cerita, suatu kali ia ikut  diskusi tentang aspek kebahasaan Al-Qur’an di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pemakalahnya adalah seorang doktor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih sekali dengan kepongahan doktor itu yang mengatakan Al-Qur’an tidak sakral karena dilihat dari aspek kebahasaan ada ketidakberesan. Doktor itu mencontohkan dalam Al-Qur’an adarangkaian huruf yang tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha  nuun, kaf ha ya ‘ain shaad, dan sejenisnya.  Maria berkata padaku,

“Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang  stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian  huruf-huruf seperti  alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin,  nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus

Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu ketidakberesan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidakberesan itu untuk menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al-
Qur’an bukan bahasa manusia biasa tapi  bahasa yang datang dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”

Aku lalu menjelaskan kepada Maria segala hal berkaitan dengan alim laam miim dalam Al-Qur’an. Lengkap dengan segala rahasia yang digali oleh para ulama dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya dalam jiwa. Juga kuterangkan bahwa pendapat Maria yang  mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.

“Wah pendapat yang terlintas  begitu saja dalam benak  kok  bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya?” komentarnya sambil tersenyum bangga.
Aku ikut tersenyum.

 Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu  untuk bertanya padanya kenapa tidak mengikuti ajaran Al-Qur’an. Pertanyaan  itu kurasa sangat tidak tepat ditujukan pada gadis cerdas seperti Maria. Dia pasti punya alasan atas pilihannya. Inilah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan misterius. Di dunia ini banyak sekali hal-hal misterius. Masalah hidayah dan iman adalah masalah
misterius. Sebab hanya Allah saja yang berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib adalah  paman nabi yang mati-matian membela dakwah nabi. Cinta nabi pada beliau  sama dengan cinta nabi pada ayah

kandungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya Allah yang berhak menentukan. Nabi tidak bisa berbuat apa-apa atas nasib sang paman yang amat dicintainya itu. Juga hidayah untuk Maria. Hanya Allah yang berhak memberikannya. Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun jendela kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar. Begitu aku tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendela kacanya, dan memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis bahwa aku dua kali tiap
dalam satu minggu keluar untuk  talaqqi Al-Qur’an. Tiap hari Ahad dan Rabu. Berangkat setelah azan zhuhur berkumandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari Rabu. Seringkali ia titip sesuatu padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan. Seperti titip membelikan disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta print, dan sejenisnya yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat foto copy dan toko perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di sana, biasanya di Shubra El-Khaima ada. Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar. Toko alat tulis yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter dari apartemen. Namun ia lebih memilih titip dan menunggu sampai aku pulang nanti. Ini memang puncak musim panas. Laporan cuaca meramalkan akan berlangsung sampai minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan Sudan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila.
Ubun-ubunku terasa mendidih. 
Panggilan iqamat
terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan.

Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di sini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha Pemberi rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang.

Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang.
Begitu masuk masjid...
Wusss! 
Hembusan udara sejuk yang dipancarkan  lima AC dalam masjid menyambut ramah.  Alhamdulillah. Nikmat rasanya jika sudah berada di dalam masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuletakkan topi dan tas cangklongku di bawah tiang dekat aku berdiri di barisan shaf kedua.Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu kuangkat takbir. Udara sejuk yang berhembus terasa mengelus-elus leher dan mukaku. Juga mengusap keringat yang tadi mengalir deras. Aku merasa tenteram dalam elusan kasih sayang Tuhan Yang Mahapenyayang. Dia terasa begitu dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari jantung yang berdetak.

Bersambunng

(Sumber : Novel Islam Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy)